Logo Scrum.co.id

Kenapa menggunakan Scrum?


Kalau semua sudah baik-baik saja.

Banyak yang menanyakan kepada kami:

Kalau semuanya sudah baik-baik saja, kenapa harus menggunakan Scrum?

Kalau semuanya sudah baik-baik saja, memang perusahaan tidak akan mendapatkan banyak dari Scrum. Namun dalam hidup hendaknya kita bukan sekedar mengejar baik-baik saja, kita sehendaknya mengejar greatness. Scrum akan memberikan banyak nilai lebih bagi perusahaan yang ingin mengejar greatness dan rendah hati untuk terus-menerus belajar. Scrum bukanah metodologi manajemen proyek. Scrum adalah cara berpikir dan sebuah perilaku organisasi. Kerangka kerja Scrum bukan dirancang untuk perusahaan yang ingin mempertahankan status-quo. Scrum dirancang untuk perusahaan yang percaya pada the art of possible. Scrum dirancang untuk situasi dan kondisi di abad 21. Scrum tidak cocok untuk semua jenis perusahaan. Berikut alasan kenapa anda ingin menggunakan Scrum dan ataupun kenapa anda tidak ingin menggunakan Scrum di perusahaan anda.

1. Memanusiakan software developer

Dorongan untuk menggunakan Scrum harus dimulai dari niat tulus untuk memanusiakan software developer di perusahaan, bukan karena sekedar ingin pekerjaan selesai cepat. Agenda utama Scrum adalah memanusiakan software developer yang bekerja di perusahaan karena Scrum sadar pada akhirnya software terbaik dihasilkan oleh software developer yang dimanusiakan. Dalam Scrum, software developer bukan dipandang hanya sebagai resource tetapi sebagai insan manusia yang unik ciptaan Tuhan. Scrum sangat menekankan software developer happiness, karena software developer yang bahagia jauh lebih produktif dibandingkan dengan software developer yang memiliki tingkat stress tinggi dan selalu meratapi nasibnya.

Scrum memberikan otonomi kepada software developer untuk swakelola menentukan cara terbaik dalam mengembangkan software dengan kualitas dan nilai setinggi mungkin untuk kostumer. Scrum memiliki peran yang bertanggung-jawab untuk memanusiakan software developer, peran tersebut adalah Scrum Master. Berbeda dengan manajer proyek, Scrum Master bertanggung-jawab untuk mengembangkan software developer agar menjadi pribadi terbaik menurut kodratnya.

Apabila anda tertarik untuk memanusiakan software developer kembali, Scrum adalah pilihan yang tepat. Scrum tidak cocok untuk perusahaan yang tidak percaya untuk memberikan otonomi kepada software developer dan tetap ingin micro-manage software developer. Apabila memanusiakan software developer tidak ada dalam agenda utama perusahaan maka Scrum bukanlah pilihan yang tepat.

2. Budaya continuous learning dan safe-to-fail

Berbeda dengan model tradisional yang didasari mindset prediktif, Scrum didasari oleh mindset empiris. Sifat Scrum yang iteratif dan inkremental dirancang agar perusahaan bisa terus menerus belajar di setiap Sprint. Setiap event dalam Scrum mulai dari Daily Scrum, Sprint Review dan Retrospectives adalah untuk menciptakan budaya continuous-learning.

Scrum sangat menekankan lingkungan kerja yang safe-to-fail karena Scrum sadar kalau inovasi berawal dari orang-orang yang tidak takut untuk terus menerus belajar dan mencoba hal yang baru. Kerangka kerja Scrum bukan dirancang untuk mencari kesalahan dan menghukum seseorang. Ketika budaya perusahaan adalah saling menyalahkan, maka orang-orang di perusahaan akan pasif dan bermain di zona nyaman. Ketika orang-orang hanya bermain di zona nyaman, maka tidak ada inovasi yang terjadi.

Scrum sangat tidak cocok untuk organisasi yang mengharapkan kepastian dan takut untuk mencoba hal baru dan suka berada dalam zona nyaman. Scrum juga sangat tidak cocok untuk organisasi yang menekankan budaya saling menyalahkan apabila kegagalan terjadi. Scrum sangat cocok untuk organisasi mau rendah-hati untuk terus menerus belajar dan ingin menekankan budaya continuous learning guna mengedepankan inovasi.

3. Lingkungan kerja yang bebas politik

Scrum sangat menekankan collective intelligence daripada bos yang selalu benar dan tidak boleh diadu pendapatnya. Dalam Scrum peran pimpinan adalah sebagai servant leader bukan sebagai pemimpin yang otoriter dan selalu benar. Butuh kerendahan hati dari setiap pihak di perusahaan termasuk manajemen dan pimpinan perusahaan agar Scrum dapat berjalan dengan efektif.

Scrum sangat menekankan kolaborasi antara Departemen Teknologi Informasi dengan pihak bisnis maupun vendor dengan klien. Scrum menekankan adanya transparansi dan tidak memberi ruang untuk pihak yang memberikan buffer estimasi agar kedua belah pihak bisa saling menanggung resiko dan memecahkan masalah bersama guna kemenangan bersama. Dalam Scrum tidak ada silo antar departemen dalam satu perusahaan maupun tembok antara vendor dan klien.

Di dalam Development Team, semua individu saling berkolaborasi dan befungsi antar lintas guna menghantarkan produk dengan kualitas dan nilai tertinggi. Dalam Scrum tidak ada orang-orang yang mengkotakkan diri dan hanya mengerjakan pekerjaan sesuai perannya saja. Semua individu saling mengambil pekerjaan apapun yang perlu dilakukan demi kemenangan bersama.

Scrum tidak cocok bagi perusahaan yang masih mengedepankan politik dan bos selalu benar ataupun budaya Asal Bapak Senang (ABS). Scrum tidak cocok bagi perusahaan yang mengkotak-kotakkan peran dan individu. Scrum tidak cocok untuk perusahaan yang tidak suka transpanrasi dan ingin menaikkan buffer estimasi atau memanipulasi informasi demi mencari selamat.

4. Meningkatkan nilai dan kualitas produk

Tujuan utama dari Scrum adalah menghantarkan produk dengan nilai dan kualitas setinggi mungkin. Sifat Scrum yang iteratif dan inkremental adalah agar perusahaan bisa terus kompetitif meningkatkan nilai produknya di pasar. Menggunakan Scrum bukan berarti perusahaan meninggalkan kualitas. Dalam Scrum, kualitas justru menjadi aspek yang paling penting apabila perusahaan ingin mendapatkan agility yang berkesinambungan dalam jangka panjang. Dalam Scrum, Definition of Done harus dipatuhi agar transparansi kualitas dapat terlihat dan semakin meningkat. Menggunakan Scrum bukan berarti bisnis tidak memiliki tujuan yang harus dicapai. Dalam Scrum, Sprint Goal memiliki tujuan memberi arahan kepada Scrum Team guna meningkatkan nilai dari produk.

Scrum akan sangat bermanfaat bagi perusahaan yang lebih menekankan kualitas dan nilai dari produk diatas on-time, on-budget, on-scope namun pada akhirnya mengorbankan kualitas sebagaimana sering terjadi. Scrum tidak cocok untuk perusahaan yang masih menekankan segitiga on-time, on-budget, on-scope sebagai kriteria sukses. Scrum sangat cocok untuk perusahaan yang menekankan value sebagai kriteria sukses. Scrum tidak cocok digunakan di perusahaan yang masih bersifat task-driven. Scrum sangat ideal untuk perusahaan yang goal-driven.

5. Relevansi dengan keadaan terkini di pasar

Metode tradisional membuat asumsi dan komitmen yang besar di depan mengenai masa depan. Hal ini sangat berisiko tinggi di jaman abad 21 dimana perubahan terjadi sangat cepat - baik dari sisi pelanggan maupun kompetitornya. Metode tradisional membuat bisnis kehilangan momentum dan Return on Investment produk menjadi sangat rendah karena pada saat produk dihantarkan ke pasar, produk tersebut sudah tidak relevan lagi dengan keadaan pasar.

Metode iteratif dan inkremental dengan durasi Sprint yang singkat di Scrum membuat bisnis dapat senantiasa mengelola resiko sepanjang product life-cycle dan memastikan bisnis selalu menghantarkan produk sesuai keinginan pasar di saat ini. Durasi Sprint yang sangat singkat membuat bisnis bisa menghantarkan produknya lebih sering lagi ke pasar dan mendengarkan pendapat dari pasar mengenai produknya lebih sering lagi yang akhirnya hal tersebut akan meningkatkan nilai dari produk.

Hal tersebut berarti bisnis harus merubah model berpikir yang membuat perencanaan jangka panjang dengan asumsi-asumsi ke model berpikir yang menekankan eksperimentasi dan empirisme. Perusahaan yang tidak dapat beralih ke pola berpikir ini tidak cocok menggunakan Scrum dan tidak akan mendapatkan manfaat yang besar dari Scrum. Perusahaan yang tidak memiliki kerendahan hati untuk belajar sesuatu yang baru dan terikat dengan pemahaman dari cara lama yang sudah tidak relevan dengan keadaan di abad 21 tidak cocok untuk menggunakan Scrum.

Semoga penjelasan ini dapat memberikan dorongan untuk menggunakan Scrum ataupun alasan untuk tidak menggunakan Scrum di perusahaan anda.

Tertarik untuk mengetahui Scrum lebih lanjut dan menggunakannya di perusahaan anda?


Baca Apa itu Scrum Baca Blog Manajemen Modern Beli Buku Manajemen Modern dengan Scrum Ambil Pelatihan Sertifikasi Scrum di Indonesia